spanduk tak mau kenal lagi sablon   1 comment

sejak penyedia jasa cetak digital sangat mudah dijumpai di hampir setiap sudut kota, spanduk-spanduk yg sering kita lihat di pingir jalan turut berubah ‘wajah’nya.  tak lagi di-sablon (screen-printing) di atas lembaran kain tetoron putih.  tak lagi membatasi area bergambar dan jumlah warna/tinta-nya.  tak lagi hanya mengandalkan teks dengan ‘font gemuk’ (bold) berukuran besar agar mudah terbaca dari jarak-jauh.  juga tak lagi bermain blok warna sekadar memenuhi unsur estetika.

bicara peran spanduk sebagai media promosi memang memiliki kekhasan dan keunikan.  berbeda dengan umbul-umbul, spanduk lebih padat – berisi pesan.  selain berjumlah lebih banyak dibanding baliho atau billboard, spanduk pun bisa menampilkan judul (headline) yg kreatif, bermain dengan kata-kata cerdas yg bikin penasaran atau tersenyum pembacanya.

jika musim kampanye pilkada tiba, spanduk (horizontal banner) menjamur, bagai dekorasi utama jalan raya.  dan berkat para pengusaha digital printing yg turut menjamur pula, spanduk tampil lebih berwarna-warni, mengkilap, tampak mahal dan moderen.  bahkan bisa menampilkan background gambar pemandangan yg seindah warna aslinya, hingga foto calon Gubernur yg secanggih hasil foto studio.

perkembangan teknologi telah mempermudah pekerjaan manusia.  Desainer grafis bisa menghadirkan spanduk dengan tampilan lebih kreatif.  jadwal produksi pun tak terkendala oleh cuaca mendung atau hujan.  sedangkan grafik peningkatan popularitasnya berbanding terbalik dengan tarif produksi-nya, alias makin murah.  tanpa kita sadari ada yg tergantikan dari dampak modernisasi produksi spanduk, yaitu skill (keahlian) tangan para pekerja yg berjiwa seni namun semakin tak mendapat tempat, bahkan cenderung terlupakan oleh jaman.

mau ikut-ikutan jadi pengusaha digital printing, yg tampaknya lebih memiliki prospek?  untuk jadi pengusaha atau operator cetak digital apakah perlu kuliah grafika? (*dilema penulis*)

Advertisements

One response to “spanduk tak mau kenal lagi sablon

Subscribe to comments with RSS.

  1. rekan grafika YTH, berikut adalah comment menarik dari pak Asys Siswanto yg gw copy-and-paste dari facebook (18 April 2010) ttg artikel di atas.

    Dulu dosen kita bilang bisnis cetakan tak kan lekang oleh waktu, dari manusia lahir ampe manusia mati membutuhkan surat (cetakan), ternyata evolusi teknologi terus merambat menggilas peradaban…..dari tulisan tangan dengan pulpen bulu ayam, mesin tik berpita hitam merah, sablon, lithgraphie, offset…..datanglah era komputerisasi….dan digitalpun menjadi primadona dengan tampilan full colour. Era spanduk sablon dan billboard mulai tersingkir kepinggiran dengan datangnya generasi lcd raksasa, kasihan nasib tukang sablon sudah tertindas oleh zaman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: