Archive for the ‘cetak sablon’ Tag

dummy studio sablon   6 comments

lima tahun lalu, saat gw berkantor di daerah Bintaro, gw ketemu pertama-kalinya dengan bang Muhammad Soleh untuk urusan suatu pekerjaan.  kesan pertama, kalo coba gw ingat-ingat, Solenk (nama akrabnya), masih sangat muda untuk ukuran jadi seorang pemilik usaha dengan skala menengah (karena gak bisa dikelompokkan sebagai usaha kecil-kecilan).  setelah setahun mengenalnya, karakter pekerja keras dan rendah hati adalah tepat untuk menggambarkan sosok Soleh. Read the rest of this entry »

cetak pada kain [5]   Leave a comment

Lanjutan dari metode teknik pencetakan pada kain:

15. Tie Dyeing

Pada Tie Dyeing, kain diikat pada bagian yang diharapkan untuk menjadi motif, pengikatan ini bertujuan untuk menghalangi warna. Dalam industri skala lebih besar, motif yang dihasilkan oleh teknik ini dapat direproduksi dengan baik dengan teknik Roller Printing. Read the rest of this entry »

cetak pada kain [4]   1 comment

lanjutan dari metode teknik pencetakan pada kain:

10. Electrostatic Printing

Merupakan pengembangan yang dipatenkan oleh sebuah perusahaan Swiss ‘Herbelain & Co.’, yaitu proses dari mencampur serbuk pewarna dengan bahan yang mempunyai sifat elektrostatis tinggi. Serbuk itu kemudian disebar atas screen yang telah memuat motif. Kemudian kain yang telah dimuati elektrostatis tinggi dilewatkan bawah screen tersebut. Kain akan menarik serbuk pewarna sesuai dengan motif screen, kemudian serbuk-serbuk ini akan difiksasi dengan pemanasan infra merah. Read the rest of this entry »

cetak pada kain [2]   1 comment

(Red: lanjutan)

Sementara itu, jika dilihat dari metodenya, teknik pencetakan dapat dibedakan sebagai berikut:

1. Block Printing

Ini adalah metode yang kuno dan kurang efektif secara biaya dan waktu pengerjaan. Untuk membuat Block Printing, desain motif dipahat terlebih dahulu pada kayu atau metal, kemudian pewarna disapukan di permukaan block kemudian diaplikasikan di atas kain.

Block Printing ini masih dapat kita jumpai pada pembuatan batik cap. Read the rest of this entry »

the art of stationary. seninya, peluangnya   Leave a comment

sebagai lulusan sekolah grafika gw sering mendapat permintaan untuk mendesain logo sebuah perusahaan.  mendesain logo adalah sebuah pekerjaan yg sangat menyenangkan buat gw, karena berhubungan dengan kreativitas dan seni.  biasanya pembuatan logo diikuti dengan aplikasinya pada desain kartunama, kopsurat dan amplop perusahaan.  agar rejeki pesanan cetak stationary tersebut jatuh ke tangan kita, tinggal merayu dan meyakinkan si pemesan untuk mempercayakan supervisi kualitas hasil cetak ke kita, agar sesuai dengan konsep dan desain, ciaaahh… mantab ! Read the rest of this entry »

kertas cetak kilap tinggi   3 comments

dear Rekan-rekan, tulisan di bawah ini dikirim oleh sdr. Sonny via comment di rubrik Asal-usul:

salam,
sebelumya perkenalkan saya Sonny, karyawan di Balai Besar Pulp dan Kertas.  mohon tanggapan atau masukan buat temen-temen pecinta grafika, sehubungan dengan adanya penyusunan SNI (standar nasional Indonesia) tentang kertas cetak kilap tinggi, saya mohon masukannya mengenai spesifikasi apa saja yang diharapkan tercantum dalam SNI tersebut.  sebelumnya saya ucapkan terima kasih, terutama untuk admin.  apabila ada yang ingin memberikan masukan atau tanggapan tentang SNI tersebut, mohon di e-mail ke sonny_bbpk@yahoo.co.id. Read the rest of this entry »

siapkan museum untuk grafika   Leave a comment

tak lama lagi grafika, ilmu pengetahuan yg pernah kita pelajari dan hingga kini masih dapat kita manfaatkan untuk mata pencaharian akan ‘musnah’.  pertanda ‘akhir jaman’ itu telah diturunkan sejak digital dan dunia maya ditemukan akhir abad ini.  makhluk 2 digit digital berhasil menyingkirkan pendahulunya, analog,  sementara dunia maya mengubah bumi menjadi datar (flat world) dan tanpa batas ruang dan waktu (borderless & timeless).  nasib grafika akan sama seperti dinosaurus dengan berakhirnya jaman es, sehingga anak cucu kita kelak hanya dapat melihat replika mesin cetak handpress yang teronggok di sudut sebuah museum yg sepi pengunjung. Read the rest of this entry »